URGENSI REVITALISASI BUDAYA BACA MASYARAKAT GENERASI MILLENNIALS PADA ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
(Muhamad Muhroy Safei)
Melihat dan mengamati bagaimana kondisi minat baca masyarakat indonesia dewasa ini, bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Sebagaimana dilansir dari data perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima sampai sembilan buku per tahun. Ini sudah cukup menjelaskan kepada kita bahwa masyarakat indonesia secara umum minatnya rendah dalam membaca buku, baik buku-buku diperpustakaan maupun buku-buku elektronik. Mengapa bisa demikian padahal ilmu pengetahuan dan teknologi semakin hari semakin berkembang maju bahkan memudahkan masyarakat untuk bisa membaca dimanapun dan kapanpun. Masyarakat tidak perlu lagi keluar rumah untuk mencari buku bacaan, cukup dengan membuka dan mencarinya melalui jaringan internet di smartphone maupun gadget yang digenggamnya setiap hari terutama oleh para generasi milenial saat ini. Nah kemudian mengapa dengan adanya kemudahan ini malah angka minat membaca masyarakat indonesia tidak semakin meningkat malah lebih dominan dikatakan merosot jauh dari masa ke masa.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa cahaya baru dan membuka wawasan berpikir secara luas dan tak terbatas malah membuat para penikmatnya terlena dan bahkan terkekang dan terpenjarakan dalam jeruji besi kenyamanan atau biasa dikatakan sebagai “Comfort Zone” yaitu zona nyaman. Cahaya terang benderang seakan memberikan dampak yang gelap gulita pada diri mereka yang berada didalamnya. Bagaimana tidak, kita bisa melihat disekitar kita, mulai dari orang dewasa, remaja, dan bahkan anak-anak banyak sekali yang tak lagi bermain diluar rumah, belajar diluar ruang kelas, dan menghabiskan waktunya hanya dengan gadget, smartphone dan sejenisnya. fenomena tersebut menggambarkan bahwa arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manusia kedalam dimensi baru sebagaimana yang kita ketahui bahwa era Revolusi Industri 4.0 saat ini menggiring manusia kedalam dimensi kedua kehidupan yakni dunia maya (Cyberspace).
Revolusi industri 4.0 secara sederhana merupakan optimalisasi teknologi berbasis jaringan internet. Proses ini sangat mendorong terhadap perkembangan kehidupan manusia menuju masyarakat dunia maya. Sebagai contoh, kecanggihan teknologi seperti gadget sudah mulai mempengaruhi pola kehidupan masyarakat. Para pengguna gadget (Walapun tidak secara keseluruhan) nampak mulai bersikap acuh terhadap lingkungan sekitarnya atau dalam istilah lain disebut sebagai Phubbing (Phone Snubbing). Proses revolusi industri 4.0 ini juga diiringi dengan disruption atau disrupsi yang didefinisikan sebagai hal yang tercabut dari akarnya. Apabila kita artikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi ialah proses terjadinya perubahan yang mendasar yang dipicu oleh kemajuan dibidang teknologi. Keberadaan istilah “ Disruption” ini memunculkan polemik antar berbagai pihak. Banyak pihak yang mengklaim bahwa disrupsi teknologi sebagai sebuah ancaman akan tetapi banyak pula pihak yang mengungkap bahwa disrupsi ini merupakan peluang besar.Selain gambaran dari dampak negatif diatas, revolusi industri 4.0 dengan arus disrupsi teknologi ini juga memberikan peluang yang cukup besar bagi semua orang dalam memaksimalkan kecanggihannya. Mulai dari peluang untuk berwirausaha secara online, sampai pada belajar pun secara online. Kemudahan-kemudahan tersebut semestinya menjadi awal kemajuan berpikir dan memperluas pandangan serta pengetahuan masyarakat, khususnya generasi milenials yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000an. Generasi milenials ini dianggap spesial terutama karna generasi ini lahir pada masa dimana teknologi seperti televisi berwarna, muncul dan diperkenalkannya smartphone, gadget dengan difasilitasi jaringan internet sehingga mereka sangat mudah bersahabat dengan teknologi.
Problema merosotnya budaya baca masyarakat indonesia khususnya pada generasi milenials ditengah pesatnya kemajuan teknologi ini cukup menjadi sorotan dan kritikan tajam bagi kaum intelektual dan kaum akademisi begitupun dengan pemerintah. Arus yang bertolak belakang antara kemajuan teknologi dengan tingkat minat baca yang semestinya teknologi ini mendorong peningkatan angka dan budaya baca masyarkat namun pada kenyataannya malah sebaliknya. Maka disinilah perlu adanya uluran tangan dan optimalisasi peran pemerintah, kaum intelektual dan akademisi atau bahkan budayawan dan terutama diri kita sendiri untuk coba mengembalikan budaya baca yang pada masa para pendahulu kita (Founding Father) sangat kental dan lekat pada diri dan pemikiran-pemikiran mereka sehingga merdekalah negeri ini. Oleh karena itu, budaya baca harus tetap terjaga dan lestari dalam diri setiap warga masyarakat indonesia baik muda maupun tua, khusunya kaum milenials yang dibenak, pikiran, dan tangan serta kakinyalah cita besar kemerdekaan indonesia akan tercapai.
Menengok sekilas sejarah lahirnya negeri ini, siapa yang tidak kenal dengan tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia yakni Ir. Soekarno atau biasa disapa Bung Karno. Beliau adalah presiden pertama Republik Indonesia yang gemar membaca sejak beliau muda. Salah seorang sejarawan bernama Peter Kasenda pernah mengungkapkan bahwa minat membaca Bung Karno muncul saat menjadi murid tokoh sarekat islam HOS Tjokroaminoto. Bung Karno menghabiskan waktunya dengan membaca buku pemikiran Karl Marx dan Engels, tokoh-tokoh filsafat dan politik semisal JJ. Rousseau, Voltaire dan negarawan-negarawan besar dunia lainnya. Tak lagi diragukan bahwa memang pemikiran-pemikiran cemerlang salah satu tokoh besar negeri ini dipengaruhi dan terbentuk dari banyaknya buku-buku yang dibacanya. Terlebih lagi pada masa lampau sangat sulit untuk mencari bahan bacaan ditambah lagi kolonialisme merambak tak sedikitpun memberi ruang untuk masyarakat nusantara menambah wawasan keilmuannya, tidak seperti masa kini yang memberikan kemudahan untuk membaca kapanpun dan dimanapun. Sosok seorang founding father negeri ini menyampaikan secara abstrak namun eksplisit bahwa sosok pemimpin adalah sosok yang penuh dengan pengetahuan dan pengetahuan itulah sebagai fondasi membangun bangsa dan negara yang pada hari ini kita bisa tinggal damai didalamya.
Pentingnya menumbuhkan atau menggalakkan kembali budaya baca pada diri masyarakat Indonesia berbanding lurus dengan cita kemerdekaan Indonesia salah satunya ialah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” dengan demikian, kombinasi peran aktif dari seluruh pihak perlu kembali dirancang dan diterjunkan disetiap lingkungan kehidupan masyarakat. Mulai dari peran pemerintah, peran orang tua, dan kita semua yang sudah mengetahui akan pentingnya budaya membaca. Kesadaran dan pola pikir generasi millennials ini harus dikonstruksi dan diarahkan agar membudayakan diri untuk membaca, karena masa depan bangsa ini berada pada pemikiran-pemikiran solutif mereka yang berasal dari akumulasi hasil membaca dan mengamati lingkungannya.
Perubahan pola pikir dan tindakan generasi millenials dapat dikatakan berbeda jauh dengan pola pikir dan tindakan generasi terdahulu. Seperti yang diutarakan sebelumnya bahwa generasi terdahulu lebih menjaga budaya bacanya ketimbang generasi saat ini. Segala macam kemudahan sudah terpampang dihadapan mereka namun malah kemudahan itu tidak dioptimalkan atau bahkan mungkin digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat seperti membaca chat atau hanya membuka media sosial dan mengkonsumsi berita-berita yang tidak lagi ditelusuri kebenarannya (Hoax). Kesadaran akan pentingnya ilmu dan pengetahuan seakan semakin merosot pada diri generasi saat ini yang sudah mulai melupakan buku dan budaya baca sehingga gelombang deras kebodohan tak terbendung lagi. Lantas siapa dan apa yang perlu dilakukan untuk mengembalikan selera membaca para generasi millennial?
Untuk meningkatkan minat baca masyarakat di era revolusi industri 4.0 ini, tidak perlu lagi dengan banyak mendirikan perpustakaan, taman baca dan sarana prasarana sejenisnya. akan tetapi yang perlu diperbaiki dan dibangun adalah minat mereka untuk membaca. Beragam cara yang dilakukan saat ini yang bisa kita lihat salah satunya ialah maraknya taman baca berjalan yang digalakkan oleh tokoh masyarakat atau kalangan mahasiswa, kemudian pembentukan komunitas-komunitas literasi dan lain sejenisnya. hal-hal diatas sudah cukup membantu menumbuhkan minat baca, akan tetapi minat dan budaya baca lebih baik dibentuk ketika masa kanak-kanak. Seharusnya, pada masa-masa inilah orang tua membentuk kesan yang baik pada diri anaknya tentang asyiknya membaca. Sehingga budaya membaca dari kecil ini akan terus berlanjut sampai ia tumbuh dewasa apabila kesan itu sudah terbangun dalam dirinya. Dilain hal, tak menutup kemungkinan juga untuk para remaja dan dewasa bahkan orang tua untuk kembali cinta dengan membaca dan kemudian membudayakannya. Kembali lagi ke awal bahwa kesadaran dalam diri seseoranglah yang menjadi persoalan utama kita untuk merevitalisasi budaya membaca.
Lalu bagaimana menumbuhkan budaya baca dalam diri anak-anak yang lahir pada era revolusi industri 4.0? Untuk meningkatkan minat baca ini dapat dilakukan oleh orang tua salah satunya memasukkan aplikasi-aplikasi yang berisi bahan bacaan seperti perpustakaan elektronik yang didalamnya dimuat berbagai macam jenis buku. Selain itu, yang paling penting adalah pengawasan orang tua maupun guru serta bagaimana peran mereka untuk terus membimbing dan mengarahkan anak-anaknya untuk sering membaca.
Membaca ialah kesadaran. Kesadaran akan pentingnya mengenal, mengetahui,memahami dan bertindak serta kesadaran untuk memberikan andil besar dalam pembangunan manusia dan kesejahteraan seluruh masyarakat.
Membaca ialah tindakan memberantas ketidaktahuan dan melawan segala bentuk ketidakadilan pada diri sendiri dan orang lain.
No comments:
Post a Comment