MENUMBUHKAN
KESADARAN DAN MEMBANGUN BUDAYA BACA YANG MEMBUDAYA DEMI BANTEN BERDAYA DI ERA POST TRUTH
Oleh
Muhamad
Muhroy Safei
Banten
merupakan tanah kandung kelahiranku yang menjadi saksi bisu kehidupan yang ku arungi
sampai detik ini. Keberagaman budaya Banten menjadi salah satu perwujudan cinta
kasih Allah SWT tuhan semesta alam yang diraih dengan segenap tekad dan kerja
keras para pahlawan terdahulu sebagai founding
father, pemimpin, budayawan, cendekiawan,
praktisi, akademisi, tokoh masyarakat dan para pemuda yang ikut turut
serta dalam menjaganya hingga pada saat ini dan sampai pada generasi masa depan
kelak. Berbicara tentang budaya, maka banten adalah tempat yang dihiasi dengan
beragam kebudayaan. Keramahan masyarakat banten juga menjadi alasan mengapa
tuhan menciptakan tanah yang subur, udara yang sejuk dan pemandangan yang indah
dalam balutan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Teringat
awal mula kelahiranku yang pernah dikisahkan ibuku. Ia mengungkapkan bahwa air
mata mengalir deras dari sepasang kelopak matanya. Tubuhnya terbaring lelah
setelah bertahan dalam perihnya perjuangan melahirkanku. Ayah juga terlihat sangat khawatir terhadap
kekasih dan buah hati nya yang pada mereka itulah cinta kasihnya dihaturkan.
Saat itu ayah seketika membacakan dua kalimat syahadat dan mengumandangkan adzan
di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri ku. Rambutku dipotong sebagai
bentuk rasa syukur, kasih sayang dan doa agar kelak jiwa dan raga ini berdaya
demi keutuhan bangsa dan agama. Tak lama waktu kian berlalu, langkah demi
langkah ku pijakkan dengan tertatih-tatih namun bersemai senyuman dan tawa
kedua orang tua, tetangga dan warga kampung ku yang terlihat memerhatikanku
sembari menyemangati dengan sorak sorai bahagia. keramahan yang selalu memaksa
jiwa dan raga ini untuk kembai walau sejauh apapun berkelana menapaki luasnya
dunia. Seperti itulah memori kenangan indah yang mencandu naluriku untuk
mengingat awal mula lahirnya kecintaan ku terhadap membaca.
Membaca
selalu mengingatkan ku pada sosok seorang ibu yang berjuang membangun kecintaan
ku terhadap buku. Ibu mengajariku membaca kata demi kata yang tertulis dalam
buku berwarna yang mengisahkan seorang kancil yang cerdik dan bijaksana. Kala
malam terhampar menyelimuti bumi dan cahaya bulan sedikit menenggelamkan
kesunyiannya, ibu mulai membacakan dongeng kepada ku. Saking seringnya ia
membacakan kisah itu, aku pun mulai meminta cerita yang lain dan meminta ibu
membacakannya untuk ku pada malam berikutnya. Melihat pertumbuhan ku yang
semakin cepat, ibu beranjak mengajariku membaca juz ‘amma, sebuah buku yang
berisi tulisan bahasa arab yang bahkan aku pun tak mengerti mengapa aku harus
mempelajarinya. Aku mulai membacanya walau dengan terbata-bata, bahkan tak
jarang lidahku salah dalam pelafalannya. Tak lama kemudian, sedikit demi
sedikit aku semakin lancar membacanya dan mulai menjadikannya rutinitas dikala ibuku
selesai beribadah pada sang pencipta. Ibuku selalu sehat sampai hari ini dan ia
pernah menyampaikan satu pesan untukkku yang masih melekat dalam ingatanku sampai saat ini “aceng kudu rajin maca supaya eungke jadi sarjana anu bijaksana”
begitu tegasnya.
Fenomena
membangun budaya membaca tidak lepas kaitannya dengan kondisi melek huruf
bangsa ini. Kondisi angka melek huruf di Indonesia menunjukkan masih adanya
masyarakat yang buta huruf. Seperti diketahui dari hasil Susenas Badan Pusat
Statistik (BPS) pada tahun 2017 menunjukkan Angka Melek Huruf nasional penduduk
umur 15 tahun keatas (AMH15+) memiliki persentase sebesar 95,5 persen. Angka
tersebut dikatakan masih rendah dibandingkan dengan persentase yang ditargetkan
pemerintah sekurang-kurangnya 96,1 persen pada tahun 2019 (Dalam RPJMN) dengan
indikator masyarakat telah mampu membaca dan menulis[1]. Bagaimana
tidak, negeri yang luas ini pasti dihadapkan pada persoalan yang lebih rumit
pula. Keberagaman suku, agama, ras, dan golongan menjadi tantangan tersendiri
dalam upaya meningatkan keberaksaraan di seluruh wilayah teritorial Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Memang sangat disayangkan apabila hari ini masih
ada masyarakat yang buta aksara atau buta huruf di Indonesia. Apalagi seperti
yang kita ketahui bahwa rendahnya tingkat keberaksaraan ini berbanding terbalik
dengan kondisi dimana semakin maraknya teknologi informasi dan komunikasi canggih.
Namun apalah daya, karena setiap rencana yang dirancang belum tentu bertemu dengan
keberhasilan. Namun kegagalan semestinya menjadi pukulan keras untuk semakin mendayagunakan
tenaga dan pikiran guna menciptakan segala upaya yang bisa dilakukan.
Sehebat-hebatnya
tupai melompat lebih hebat lagi manusia yang menjalani kehidupannya dengan
membaca. Tupai hebat dengan lompatannya yang begitu lihai namun dengan membaca
manusia lebih dahsyat dalam menciptakan lompatan besar pengetahuan dan lebih
lihai dalam menyelami arus dinamika kehidupan. Seperti yang kita ketahui namun
jarang sekali disadari bahwa membaca bukan lagi menjadi hal yang lumrah dalam
kisah kehidupan kita sebagai manusia. Bagaimana tidak, sadar ataupun tidak sejak
dilahirkannya kita ke alam dunia kita selalu dekat dengan istilah “membaca”. Berawal
dari suara tangisan tak karuan yang kita teriakkan dimasa kecil, seketika orang
tua kita mendengar dan membacanya lalu langsung memahami apa yang kita
butuhkan. Setiap sikap, perilaku atau tindakan manusia bisa dipahami melalui
proses membaca. Karena membaca bukan melulu berhadapan dengan teks namun kondisi
suatu lingkungan pun bisa dibaca dan dimaknai secara kontekstual. Dengan
demikian kehidupan manusia tidak terlepas dari pentingnya peran membaca
sehingga membaca dapat dikatakan sebagai alasan mengapa manusia masih bisa
hidup saat ini.
Sebelum
melangkah lebih jauh, selayaknya kita beranjak dari tempat tidur menuju halaman
rumah dan memandang segala yang ada dihadapan kita saat itu juga. Apa yang bisa
kita lihat? Rimbunnya pohon yang dihinggapi beragam jenis burung yang berkicau
riau, hamparan sawah yang luas dan hijau atau gulungan ombak samudera yang
bergelut udang dan ikan didalamnya. Lalu, bagaimana apabila mata indah kita
disuguhkan dengan pemandangan industri yang mengeksploitir kekayaan alam negeri
kita tercinta?, Pernahkah kita sadari bahwa mereka sedang merampas entitas (perwujudan)
hak kita sebagai pribumi di tanah air sendiri?. Maka tanyakan pada diri yang
tak tahu apa-apa ini “Mengapa kampung halamanku tak indah seperti dulu?”. Lalu
tindakan apa yang akan kita ambil apabila fenomena itu terjadi dihadapan kita.
Referensi-referensi tindakan yang semestinya dilakukan ketika seseorang
dihadapkan pada kondisi demikian itu hadir apabila seseorang telah menimba
proses membaca. Dengan membaca, opsi atau pilihan tindakan akan semakin banyak
dan pola pikir akan terorientasi pada pencapaian kesejahteraan. Seperti yang
dikatakan dan diketahui oleh banyak orang bahwa “Membaca Adalah Melawan”. Dengan
demikian, seharusnya fenomena inilah yang memicu timbulnya pernyataan tegas bahwa
“Kita harus menumbuhkan kesadaran dan membangun budaya baca”.
Era
Post Truth yang sering
diperbincangkan dewasa ini menjadi alasan mengapa manusia harus memiliki budaya
membaca yang baik. Post truth
didefiniskan dalam Kamus Oxford sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu
berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal[2].
Sebagian besar penggunaan istilah post-truth merujuk pada dua momen politik
paling berpengaruh di tahun 2016, pertama keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa
(Brexit) dan kedua terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika
Serikat.Dalam situasi tersebut, informasi-informasi hoax punya pengaruh yang
jauh lebih besar ketimbang fakta yang sebenarnya. Al Rodhan dalam Setiawan
(2017) menyebutkan beberapa karakteristik utama dari politik post truth yaitu mengaduk-aduk
masyarakat dengan hal-hal yang bersifat emosional, mengabaikan data dan fakta,
mengutamakan dan mem-viral-kan berita yang belum tentu kebenarannya atau palsu,
Mengkombinasikan gerakan populis dengan teori-teori konspirasi yang masih butuh
diuji lagi kebenarannya, mobilisasi narasi fiktif tentang figur atau peristiwa
tertentu, dan Memoles ketidakjujuran dalam membangun opini untuk memperkuat
posisi sosial figur, kelompok, atau kepentingan tertentu dalam masyarakat yang
semakin terbiasa dalam peradaban televisual, online, android, dan media sosial[3].
Betapa
dilemanya era Post Truth yang memaksa
manusia menelan mentah-mentah segala bentuk informasi yang tidak faktual
(Bohong/Hoax) namun dipercaya kebenarannya oleh publik. Bagaimana tidak, media
sosial hari ini sudah menjadi ladang tak terbatas bagi manusia dalam menebar kebaikan
juga sebaliknya dalam hal kejahatan. Segala informasi yang tersebar di media
sosial seakan diyakini kebenarannya oleh khalayak ramai. Sangat memilukan,
tidak hanya informasi itu ditelan (dikonsumsi) mentah-mentah namun juga disebarluaskan
tanpa tahu kebenarannya dan tanpa berpikir apa dampak yang akan ditimbulkannya.
Dekadensi moral pun menjadi salah satu akibat dari pola tindakan manusia ketika
mereka lebih percaya pada opini publik ketimbang melalui proses pencarian dan
penjajakan dan proses validasi informasi yang tersebar di masyarakat. Kondisi
seperti ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya peran membaca untuk membentuk
manusia yang mampu memilah informasi yang benar atau salah. Membaca dalam hal
ini tidak hanya sekedar kegiatan membaca seperti biasa namun juga melibatkan
pemaknaan terhadap hasil bacaan dan melakukan proses penelaahan kembali secara
utuh terkait kebenaran informasi yang tersebar luas ke publik. Dengan begitu
ruang publik tak akan menjadi ruang hampa yang hanya dipenuhi oleh kabar bohong
(hoax), namun didalamnya manusia juga mampu memilah informasi dengan baik dan
tidak melakukan tindakan penyebaran ulang kabar bohong di lingkungan
sekitarnya. Maka dengan demikian, kita perlu menumbuhkan kesadaran akan
pentingnya membaca.
Kesadaran
akan urgensi membaca dalam kehidupan mesti mengkristal dalam urat nadi manusia.
Joseph Brodsky dalam Suryaningsih (2007), mengungkapkan bahwa “Kejahatan yang
lebih buruk daripada membakar buku adalah (Salah satunya) tidak membaca buku”.[4] Lalu
apakah waktu yang sempit dalam hidup kita sudah digunakan salah satunya untuk
melakukan proses membaca?. Betapa ironisnya kehidupan manusia hari ini yang mematikan
jiwanya sendiri karena tidak pernah mau membaca.
Kesadaran membaca akan menghasilkan kecintaan terhadap membaca sehingga membaca
menjadi suatu rutinitas yang terjadi tanpa paksaan. Rutinitas tersebut terus
terolah melalui aktifitas berpikir dan bertindak sehingga membudaya dalam diri
seseorang. Membaca sebagai suatu bentuk kesadaran bukan lagi menjadi hal yang
diproduksi melalui mekanisme pengembangan fasilitas membaca seperti melalui
pembangunan perpustakaan yang bertingkat dan mewah dengan ruangan ber-AC dan
dihiasi banyaknya buku-buku yang tak terhitung jumlahnya. Akan tetapi diproduksi
melalui proses sosialisasi yang intensif dan terencana dalam lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat secara umum. Berawal dari membaca peran
diri sendiri sebagai manusia dalam kehidupan bermasyarakat juga memahami
pentingnya kehadiran mahluk hidup lain yang sama-sama memiliki kehidupan dan
saling berbagi didalamnya. Dengan tumbuhnya kesadaran seperti itu dalam diri
manusia, maka membaca akan hadir sebagai budaya yang membudaya.
Salah
satu tokoh budayawan Banten Heri Hendrayana atau lebih akrab disapa Gol A Gong
mengungkap bahwa:
Membaca buku itu
penting! Semua orang tahu dan pasti setuju. Oleh sebab itu, menjadi beralasan
mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Dengan kebiasaan dan
kecintaan membaca sejak dini, mereka menjadi lebih mudah mempelajari apapun,
termasuk pelajaran di sekolah yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik.[5]
Ungkapan
tersebut meyakinkan kepada penulis serta pembaca betapa pentingnya membangun
kecintaan terhadap membaca. Cinta tak selalu berkaitan dengan hubungan antara
dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berbeda, akan tetapi cinta yang
dimaknai disini adalah cinta yang tumbuh karena terbangunnya kesadaran yang
dibentuk melalui proses panjang pembiasaan/pembudayaan membaca. Usia anak-anak
adalah usia yang paling potensial dalam menumbuhkan kecintaan terhadap membaca.
Maka tidak heran apabila orang tua yang memiliki budaya membaca yang baik maka
anak-anak mereka juga kelak akan memiliki kecintaan terhadap membaca, namun
dengan catatan orang tua mampu melakukan pembiasaan membaca yang rutin kepada
anaknya.
Studi
Programme for International Student Assesment
(PISA) yang dilakukan pada tahun 2009, 2012 dan 2015 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
mengungkap bahwa pemahaman membaca siswa (selain matematika dan sains) di
Indonesia pada tingkat sekolah menengah (15 tahun) masih dikatakan rendah.
Sebagaimana diketahui PISA pada tahun 2009 menempatkan posisi Indonesia pada
peringkat ke-57 dari 65 negara. Kemudian PISA pada tahun 2012 menunjukkan
literasi peserta didik Indonesia mengalami kemunduran dengan bertengger pada
posisi ke-64 (peringkat 2 terakhir) dari 65 negara yang berpartisipasi. Data
terakhir PISA 2015 juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan seperti
diketahui Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 peserta)[6]. Rendahnya
kemampuan literasi siswa di lingkungan sekolah menunjukkan kepada kita bahwa
mereka yang bersekolah saja pemahaman membacanya masih rendah apalagi mereka
yang tidak bersekolah. Ini menegaskan kembali kepada kita bahwa rendahnya minat
membaca siswa merupakan cerminan bahwa pendidikan belum mampu menumbuhkan
kesadaran akan pentingnya membaca bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Lalu
mengapa demikian? apakah pembelajaran di sekolah tidak efektif dalam
menumbuhkan minat baca? Atau masih kurangnya perhatian perangkat pendidikan
terhadap kondisi literasi bangsa ini yang kian terpuruk?. Ingat baik-baik
beberapa pertanyaan tadi dalam pikiran kita agar kesadaran akan urgensi membaca
tetap terjaga dalam ruang kesadaran kita sebagai manusia dan terimplementasi
dalam setiap tindakan yang kita lakukan.
Selama
ini sejumlah fasilitas membaca yang mewah tidak selamanya mengundang
ketertarikan masyarakat terhadapnya, akan tetapi sebaliknya fasilitas membaca
yang identik mewah malah di eksploitir untuk kepentingan individu atau golongan
tertentu yang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya membaca apalagi budaya
membaca. Terikatnya manusia kedalam pusaran kepentingan semata akan membutakan
mereka dalam memahami kondisi literasi bangsa hari ini. Pada akhirnya tujuan mulia
untuk menumbuhkan dan meningkatkan budaya baca hanya sekedar wacana yang tak jelas
arah dan muaranya. Hal yang paling mendasar dalam menumbuhkan minat baca adalah
membangun kesadaran pentingnya membaca sedari dini. Menumbuhkan kesadaran
memang terasa sulit sekali dilakukan, terlebih lagi apabila kesadaran itu
dipaksakan kehadirannya pada diri manusia. Kesadaran yang coba ditanamkan
melalui proses pembudayaan tidak selamanya berbuah manis menghasilkan kesadaran
yang utuh. Ketimbang menumbuhkan kesadaran, pembudayaan yang diikat aturan yang
tegas menjadi bentuk kekerasan simbolik yang meneteskan tinta hitam pada hati
manusia dan memudarkan pandangannya untuk membaca dengan intuisi. Lalu
pembudayaan membaca seperti apa yang mampu menumbuhkan kesadaran dan minat baca serta membangun budaya membaca
yang membudaya? Lagi-lagi muncul pertanyaan yang menguras seisi kepala kita.
Perpustakaan
dan buku bagaikan satu keping mata uang dengan dua sisi yang berbeda, akan
tetapi untuk menjadi bernilai keduaya harus ada dan saling mengisi satu sama
lain. Buku diartikan sebagai catatan tercetak yang dikonsumsi publik, dan perpustakaan
diartikan sebagai mediator yang dapat mempertemukan antara pembaca dengan ide
penulis yang dituangkan pada isi informasi yang ada didalamnya[7].
Perpustakaan semestinya tidak hanya menjadi ruangan yang dipenuhi buku, namun
juga dilengkapi dengan beragam fasilitas khusus yang mampu menjadikan suasana
perpustakaan semakin kondusif baik bagi anak-anak, remaja maupun bagi kalangan
dewasa. Dengan pengelolaan yang baik, maka perpustakaan akan menjadi ruang tak
terbatas yang mampu mengeksplorasi daya pikir kreatif, inspiratif dan berujung
pada meningkatnya pengetahuan dan wawasan serta kemajuan peradaban. Dengan
demikian, perpustakaan dan buku mesti terus dijaga dan dikembangkan dalam upaya
mendorong minat baca dan membangun budaya baca masyarakat.
Banten
sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang menjadikan Islam sebagai simbol
peradaban masyarakat sejak masa kesultanan. Islam pada kenyataannya di masa itu
tidak serta merta menghapus jejak tradisi dan budaya lokal Banten yang sudah
ada jauh sebelum Islam masuk dan berkembang di Banten. Indikasi bahwa penguasa
Banten saat itu masih menghargai dan menghormati tradisi dan budaya lokal
adalah cerita dalam ‘Sadjarah Banten’ yang menyatakan bahwa Sultan Ageng
Tirtayasa, sejak belia dan masih menjabat sebagai Sultan Muda, dikenal sebagai
putra bangsawan yang sangat menyukai kebudayaan. Bahkan ia seringkali terlibat
aktif dalam beberapa tradisi permainan rakyat Banten seperti permainan raket
(semacam wayang wong), dedewaan, sasaptoan, dan berbagai tradisi lokal lainnya.[8]
Era post truth menjadi titik tolak kemajuan suatu peradaban.
Aktifitas manusia semakin mudah dilakukan, begitupun dengan semakin mudahnya
informasi-informasi hoax tersebar
luas. Oleh karenanya, masyarakat Banten harus melek huruf dan memiliki budaya
membaca. Bagaimana caranya kita mengetahui budaya Banten dan memilah informasi
yang benar dan tidak benar tentang Banten, apabila kita tidak pernah membaca
sejarah Banten. Budaya membaca juga tidak hanya sekedar melekat pada diri
sendiri tapi juga harus ditebarkan kepada orang lain agar budaya membaca dalam
diri mampu membudaya dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan
masyarakat yang lebih luas. Sehingga pada waktunya nanti masyarakat Banten
mampu menjadi insan yang berdaya dan berbudaya baik ditanah sendiri maupun
ketika berada diluar daerahnya.
Pemerintah
dan stake holder semestinya tidak bisa
hanya berfokus pada peningkatan kualitas sarana membaca seperti perpustakaan
dan sejenisnya. Mulailah berbaur dengan masyarakat dalam membangun formulasi
yang tepat guna menumbuhkan kesadaran
akan pentingnya membaca. Salah satu gerakan membaca yang muncul atas kolaborasi
antar keduanya adalah didirikannya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Tidak sedikit
jumlah TBM yang berdiri di pelosok negeri ini menunjukkan bahwa besarnya
antusiasme masyarakat untuk membantu menumbuhkan kesadaran bangsa akan pentingnya
kemampuan membaca dalam kehidupan. Mencerdaskan kehidupan Bangsa adalah salah
satu amanat undang-undang dan para founding
father yang memerdekakan bangsa ini dengan bermandikan darah dan nanah
perjuangan. TBM menjadi solusi membangun kesadaran secara bottom up yakni meningkatkan kesadaran dan membangun budaya membaca
masyarakat di daerah pelosok pedesaan. Namun ternyata realitas di lingkungan masyarakat
berkata lain, TBM belum mampu berperan secara langsung dalam menumbuhkan
kesadaran yang utuh tentang pentingnya membaca pada diri masyarakat. Strategi
membuka lapak literasi beralaskan karpet dengan beragam buku yang dijajakkan belum
mampu memberikan stimulus yang maksimal kepada masyarakat untuk menumbuhkan
kesadaran dan kecintaan terhadap membaca. Buku-buku yang ada seakan hanya
menjadi pajangan yang mengindahkan pandangan namun tidak menyelesaikan akar
permasalahan rendahnya minat membaca masyarakat. Lalu siapa saja yang
semestinya berperan dalam meningkatkan budaya baca selain pemerintah dan stake holder atau pemerhati pendidikan?.
Sebagai
kelompok sosial terkecil dan paling intim, keluarga merupakan sekolah pertama
bagi manusia. Disini, seorang anak lahir dan mulai mengenal dunia melalui kasih
sayang kedua orang tuanya. Begitu lembut kasih sayang orang tua pada anaknya,
mereka ada disaat senang maupun susah dan tanpa disadari mereka adalah kunci
keberhasilan dan kesuksesan anak-anaknya. Maka semestinya menumbuhkan kesadaran
terhadap membaca dimulai dari sini. Sedari kecil orang tua harus sudah mulai
menyuguhkan buku-buku yang menarik perhatian anaknya, misalnya buku cerita
bergambar atau sejenisnya. Ajarkan setiap gambar yang nampak dalam buku dan
ceritakan kisahnya. Lalu pada usia yang cukup, mulailah orangtua mengajarkan
anaknya membaca. Kebiasaan yang dibangun secara alamiah itulah yang pada
akhirnya akan melahirkan kecintaan mereka terhadap membaca. Lingkungan keluarga
yang literat akan berbeda dengan yang tidak literat. Orang tua yang tidak
memiliki kesadaran dan budaya baca akan sulit untuk menumbhkan minat baca
anaknya, akan tetapi orang tua yang memiliki budaya baca akan lebih mudah dalam
mereproduksi budaya baca pada diri anaknya. Kebiasaan membaca orang tua akan
diamati dan lama kelamaan akan ditiru oleh anaknya. Lalu bagaimana strategi
untuk menumbuhkan minat baca anak yang hidup di lingkungan keluarga yang tidak
literat? Disinilah Pentingnya kolaborasi peran aktif dari seluruh pihak, baik
pemerintah, stake holder maupun orang
tua dan masyarakat secara umum untuk kembali saling bertukar pikiran dan meramu
gagasan agar terbentuknya kebudayaan membaca pada diri anak-anaknya.
Strategi
“Door to Door” menjadi solusi dari
penulis dalam menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap membaca. Pemerintah
wajib mendonasikan buku kepada seluruh TBM yang berdiri di Indonesia, kemudian
para anggota TBM bergerak secara masif untuk datang ke perumahan warga di
masing-masing wilayah yang bisa dijangkau dan memberikan buku-buku bacaaan
kepada orang tua anak sesuai dengan tingkatan usia dan kondisi psikis anak.
Keberhasilan strategi ini tidak terpaku pada upaya yang dilakukan oleh salah
satu pihak saja, akan tetapi kolaborasi antar seluruh pihak dan elemen yang ada
didalamnya lah yang menentukan keberhasilan dari strategi “Door To Door” ini. Orang tua membuat jadwal membaca untuk anaknya
(bagi anak yang telah bisa membaca), sedangkan bagi anak yang belum bisa
membaca, maka orang tua menjadwalkan dirinya untuk mengisahkan suatu fenomena
atau cerita tentang apa yang ada didalam buku. Ini semua bertujuan untuk merangsang
kesadaran anak untuk terbiasa membaca sehingga budaya membaca terbentuk didalam
dirinya. Apabila budaya membaca sudah terbentuk dalam diri anak, dengan begitu
budaya membaca akan terus membudaya hingga mereka beregenerasi pada masa yang
akan datang.
Menumbuhkan
kesadaran dan kecintaan terhadap membaca membutuhkan uluran tangan dari semua
pihak. Menjadi penting untuk berperan langsung didalamnya, bukan hanya sebagai
penonoton saja akan tetapi juga ikut bergerak dan memperjuangkan hak dan
kewajiban kita kepada orang lain. Orang tua di lingkungan keluarga, guru di
lingkungan sekolah, pemerintah di lingkungan pendidikan nasional dan anggota
masyarakat di lingkungan yang lebih luas harus turut serta menjadi penggerak
pada masing-masing ruang lingkupnya sehingga pembudayaan membaca terus
mereproduksi diri dalam setiap generasi. Kita merupakan satu kesatuan yang utuh
sebagai suatu bangsa, maka ini adalah panggilan nurani yang hendak menyita
seluruh waktu, tenaga, pikiran dan materi demi membaca yang membudaya dalam
diri seluruh rakyat Indonesia. Persoalan yang membentang dihadapan kita adalah
persoalan kecerdasan bangsa maka membaca merupakan pintu gerbang pertama menuju
bangsa yang cerdas dan mencerdaskan. Oleh karena itu, mari bergandengan tangan
dan saling bergotong royong memaksimalkan potensi diri untuk menggapai
kecerdasan hidup berbangsa dan bernegara melalui pembudayaan membaca dalam diri
dan memberdayakannya untuk generasi (Budaya baca yang membudaya).
[1] BPS. 2017. Potret Pendidikan Indonesia Statistik
Pendidikan. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Hal:62.
[2]
Istilah
post-truth menurut penjelasan Kamus Oxford digunakan pertama kali tahun 1992.
Istilah itu diungkapkan oleh Steve Tesich di majalah The Nation ketika
merefleksikan kasus Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi di periode
tersebut. Sementara itu Ralph Keyes dalam bukunya The Post truth Era (2004) dan
comedian Stephen Colber mempopulerkan istilah yang berhubungan dengan
post-truth yaitu truthiness yang kurang lebih sebagai sesuatu yang seolah-olah
benar, meski tidak benar sama sekali.
[3]
Setiawan,
Ikhwan (25 Septermber, 2017), Media Sosial, Politik Post-Truth dan Tantangan
Kebangsaan. Link berita: http://matatimoer.or.id/2017/09/2 5/media-sosial-politik-post-truthdan-
tantangan-kebangsaan/.
[4] Suwarno, Wiji. Perpustakaan & Buku. Jakarta.
Ar-Ruzz Media. Hal. 39
[5] Gong, A gol.
Agus M Irkham. Gempa Literasi Dari
Kampung Untuk Nusantara. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia. Hal: 11.
[6] Sutrianto, Dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Jakarta Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan, hal: 1.
[7] Suwarno, Wiji. Perpustakaan & Buku. Jakarta.
Ar-Ruzz Media. Hal. 39
[8]
Tjandrasasmita,
Uka. 2011. Banten Abad XV-XXI. Pencapaian Gemilang, Penorehan Menjelang. Jakarta:
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian
Agama RI. Hal : 29
No comments:
Post a Comment