Saturday, March 21, 2020

Literasi Untuk Masa Depan Banten

MENUMBUHKAN KESADARAN DAN MEMBANGUN BUDAYA BACA YANG MEMBUDAYA DEMI BANTEN BERDAYA DI ERA POST TRUTH
Oleh
Muhamad Muhroy Safei

Banten merupakan tanah kandung kelahiranku yang menjadi saksi bisu kehidupan yang ku arungi sampai detik ini. Keberagaman budaya Banten menjadi salah satu perwujudan cinta kasih Allah SWT tuhan semesta alam yang diraih dengan segenap tekad dan kerja keras para pahlawan terdahulu sebagai founding father, pemimpin, budayawan, cendekiawan,  praktisi, akademisi, tokoh masyarakat dan para pemuda yang ikut turut serta dalam menjaganya hingga pada saat ini dan sampai pada generasi masa depan kelak. Berbicara tentang budaya, maka banten adalah tempat yang dihiasi dengan beragam kebudayaan. Keramahan masyarakat banten juga menjadi alasan mengapa tuhan menciptakan tanah yang subur, udara yang sejuk dan pemandangan yang indah dalam balutan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Teringat awal mula kelahiranku yang pernah dikisahkan ibuku. Ia mengungkapkan bahwa air mata mengalir deras dari sepasang kelopak matanya. Tubuhnya terbaring lelah setelah bertahan dalam perihnya perjuangan melahirkanku.  Ayah juga terlihat sangat khawatir terhadap kekasih dan buah hati nya yang pada mereka itulah cinta kasihnya dihaturkan. Saat itu ayah seketika membacakan dua kalimat syahadat dan mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri ku. Rambutku dipotong sebagai bentuk rasa syukur, kasih sayang dan doa agar kelak jiwa dan raga ini berdaya demi keutuhan bangsa dan agama. Tak lama waktu kian berlalu, langkah demi langkah ku pijakkan dengan tertatih-tatih namun bersemai senyuman dan tawa kedua orang tua, tetangga dan warga kampung ku yang terlihat memerhatikanku sembari menyemangati dengan sorak sorai bahagia. keramahan yang selalu memaksa jiwa dan raga ini untuk kembai walau sejauh apapun berkelana menapaki luasnya dunia. Seperti itulah memori kenangan indah yang mencandu naluriku untuk mengingat awal mula lahirnya kecintaan ku terhadap membaca.
Membaca selalu mengingatkan ku pada sosok seorang ibu yang berjuang membangun kecintaan ku terhadap buku. Ibu mengajariku membaca kata demi kata yang tertulis dalam buku berwarna yang mengisahkan seorang kancil yang cerdik dan bijaksana. Kala malam terhampar menyelimuti bumi dan cahaya bulan sedikit menenggelamkan kesunyiannya, ibu mulai membacakan dongeng kepada ku. Saking seringnya ia membacakan kisah itu, aku pun mulai meminta cerita yang lain dan meminta ibu membacakannya untuk ku pada malam berikutnya. Melihat pertumbuhan ku yang semakin cepat, ibu beranjak mengajariku membaca juz ‘amma, sebuah buku yang berisi tulisan bahasa arab yang bahkan aku pun tak mengerti mengapa aku harus mempelajarinya. Aku mulai membacanya walau dengan terbata-bata, bahkan tak jarang lidahku salah dalam pelafalannya. Tak lama kemudian, sedikit demi sedikit aku semakin lancar membacanya dan mulai menjadikannya rutinitas dikala ibuku selesai beribadah pada sang pencipta. Ibuku selalu sehat sampai hari ini dan ia pernah menyampaikan satu pesan untukkku yang masih melekat dalam  ingatanku sampai saat ini “aceng kudu rajin maca supaya eungke jadi sarjana anu bijaksana” begitu tegasnya.  
Fenomena membangun budaya membaca tidak lepas kaitannya dengan kondisi melek huruf bangsa ini. Kondisi angka melek huruf di Indonesia menunjukkan masih adanya masyarakat yang buta huruf. Seperti diketahui dari hasil Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017 menunjukkan Angka Melek Huruf nasional penduduk umur 15 tahun keatas (AMH15+) memiliki persentase sebesar 95,5 persen. Angka tersebut dikatakan masih rendah dibandingkan dengan persentase yang ditargetkan pemerintah sekurang-kurangnya 96,1 persen pada tahun 2019 (Dalam RPJMN) dengan indikator masyarakat telah mampu membaca dan menulis[1]. Bagaimana tidak, negeri yang luas ini pasti dihadapkan pada persoalan yang lebih rumit pula. Keberagaman suku, agama, ras, dan golongan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya meningatkan keberaksaraan di seluruh wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Memang sangat disayangkan apabila hari ini masih ada masyarakat yang buta aksara atau buta huruf di Indonesia. Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa rendahnya tingkat keberaksaraan ini berbanding terbalik dengan kondisi dimana semakin maraknya teknologi informasi dan komunikasi canggih. Namun apalah daya, karena setiap rencana yang dirancang belum tentu bertemu dengan keberhasilan. Namun kegagalan semestinya menjadi pukulan keras untuk semakin mendayagunakan tenaga dan pikiran guna menciptakan segala upaya yang bisa dilakukan.
Sehebat-hebatnya tupai melompat lebih hebat lagi manusia yang menjalani kehidupannya dengan membaca. Tupai hebat dengan lompatannya yang begitu lihai namun dengan membaca manusia lebih dahsyat dalam menciptakan lompatan besar pengetahuan dan lebih lihai dalam menyelami arus dinamika kehidupan. Seperti yang kita ketahui namun jarang sekali disadari bahwa membaca bukan lagi menjadi hal yang lumrah dalam kisah kehidupan kita sebagai manusia. Bagaimana tidak, sadar ataupun tidak sejak dilahirkannya kita ke alam dunia kita selalu dekat dengan istilah “membaca”. Berawal dari suara tangisan tak karuan yang kita teriakkan dimasa kecil, seketika orang tua kita mendengar dan membacanya lalu langsung memahami apa yang kita butuhkan. Setiap sikap, perilaku atau tindakan manusia bisa dipahami melalui proses membaca. Karena membaca bukan melulu berhadapan dengan teks namun kondisi suatu lingkungan pun bisa dibaca dan dimaknai secara kontekstual. Dengan demikian kehidupan manusia tidak terlepas dari pentingnya peran membaca sehingga membaca dapat dikatakan sebagai alasan mengapa manusia masih bisa hidup saat ini.
Sebelum melangkah lebih jauh, selayaknya kita beranjak dari tempat tidur menuju halaman rumah dan memandang segala yang ada dihadapan kita saat itu juga. Apa yang bisa kita lihat? Rimbunnya pohon yang dihinggapi beragam jenis burung yang berkicau riau, hamparan sawah yang luas dan hijau atau gulungan ombak samudera yang bergelut udang dan ikan didalamnya. Lalu, bagaimana apabila mata indah kita disuguhkan dengan pemandangan industri yang mengeksploitir kekayaan alam negeri kita tercinta?, Pernahkah kita sadari bahwa mereka sedang merampas entitas (perwujudan) hak kita sebagai pribumi di tanah air sendiri?. Maka tanyakan pada diri yang tak tahu apa-apa ini “Mengapa kampung halamanku tak indah seperti dulu?”. Lalu tindakan apa yang akan kita ambil apabila fenomena itu terjadi dihadapan kita. Referensi-referensi tindakan yang semestinya dilakukan ketika seseorang dihadapkan pada kondisi demikian itu hadir apabila seseorang telah menimba proses membaca. Dengan membaca, opsi atau pilihan tindakan akan semakin banyak dan pola pikir akan terorientasi pada pencapaian kesejahteraan. Seperti yang dikatakan dan diketahui oleh banyak orang bahwa “Membaca Adalah Melawan”. Dengan demikian, seharusnya fenomena inilah yang memicu timbulnya pernyataan tegas bahwa “Kita harus menumbuhkan kesadaran dan membangun budaya baca”.
Era Post Truth yang sering diperbincangkan dewasa ini menjadi alasan mengapa manusia harus memiliki budaya membaca yang baik. Post truth didefiniskan dalam Kamus Oxford sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal[2]. Sebagian besar penggunaan istilah post-truth merujuk pada dua momen politik paling berpengaruh di tahun 2016, pertama keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan kedua terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.Dalam situasi tersebut, informasi-informasi hoax punya pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang fakta yang sebenarnya. Al Rodhan dalam Setiawan (2017) menyebutkan beberapa karakteristik utama dari politik post truth yaitu mengaduk-aduk masyarakat dengan hal-hal yang bersifat emosional, mengabaikan data dan fakta, mengutamakan dan mem-viral-kan berita yang belum tentu kebenarannya atau palsu, Mengkombinasikan gerakan populis dengan teori-teori konspirasi yang masih butuh diuji lagi kebenarannya, mobilisasi narasi fiktif tentang figur atau peristiwa tertentu, dan Memoles ketidakjujuran dalam membangun opini untuk memperkuat posisi sosial figur, kelompok, atau kepentingan tertentu dalam masyarakat yang semakin terbiasa dalam peradaban televisual, online, android, dan media sosial[3].
Betapa dilemanya era Post Truth yang memaksa manusia menelan mentah-mentah segala bentuk informasi yang tidak faktual (Bohong/Hoax) namun dipercaya kebenarannya oleh publik. Bagaimana tidak, media sosial hari ini sudah menjadi ladang tak terbatas bagi manusia dalam menebar kebaikan juga sebaliknya dalam hal kejahatan. Segala informasi yang tersebar di media sosial seakan diyakini kebenarannya oleh khalayak ramai. Sangat memilukan, tidak hanya informasi itu ditelan (dikonsumsi) mentah-mentah namun juga disebarluaskan tanpa tahu kebenarannya dan tanpa berpikir apa dampak yang akan ditimbulkannya. Dekadensi moral pun menjadi salah satu akibat dari pola tindakan manusia ketika mereka lebih percaya pada opini publik ketimbang melalui proses pencarian dan penjajakan dan proses validasi informasi yang tersebar di masyarakat. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya peran membaca untuk membentuk manusia yang mampu memilah informasi yang benar atau salah. Membaca dalam hal ini tidak hanya sekedar kegiatan membaca seperti biasa namun juga melibatkan pemaknaan terhadap hasil bacaan dan melakukan proses penelaahan kembali secara utuh terkait kebenaran informasi yang tersebar luas ke publik. Dengan begitu ruang publik tak akan menjadi ruang hampa yang hanya dipenuhi oleh kabar bohong (hoax), namun didalamnya manusia juga mampu memilah informasi dengan baik dan tidak melakukan tindakan penyebaran ulang kabar bohong di lingkungan sekitarnya. Maka dengan demikian, kita perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca.
Kesadaran akan urgensi membaca dalam kehidupan mesti mengkristal dalam urat nadi manusia. Joseph Brodsky dalam Suryaningsih (2007), mengungkapkan bahwa “Kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku adalah (Salah satunya) tidak membaca buku”.[4] Lalu apakah waktu yang sempit dalam hidup kita sudah digunakan salah satunya untuk melakukan proses membaca?. Betapa ironisnya kehidupan manusia hari ini yang mematikan  jiwanya sendiri karena tidak pernah mau membaca. Kesadaran membaca akan menghasilkan kecintaan terhadap membaca sehingga membaca menjadi suatu rutinitas yang terjadi tanpa paksaan. Rutinitas tersebut terus terolah melalui aktifitas berpikir dan bertindak sehingga membudaya dalam diri seseorang. Membaca sebagai suatu bentuk kesadaran bukan lagi menjadi hal yang diproduksi melalui mekanisme pengembangan fasilitas membaca seperti melalui pembangunan perpustakaan yang bertingkat dan mewah dengan ruangan ber-AC dan dihiasi banyaknya buku-buku yang tak terhitung jumlahnya. Akan tetapi diproduksi melalui proses sosialisasi yang intensif dan terencana dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat secara umum. Berawal dari membaca peran diri sendiri sebagai manusia dalam kehidupan bermasyarakat juga memahami pentingnya kehadiran mahluk hidup lain yang sama-sama memiliki kehidupan dan saling berbagi didalamnya. Dengan tumbuhnya kesadaran seperti itu dalam diri manusia, maka membaca akan hadir sebagai budaya yang membudaya.
Salah satu tokoh budayawan Banten Heri Hendrayana atau lebih akrab disapa Gol A Gong mengungkap bahwa:
Membaca buku itu penting! Semua orang tahu dan pasti setuju. Oleh sebab itu, menjadi beralasan mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Dengan kebiasaan dan kecintaan membaca sejak dini, mereka menjadi lebih mudah mempelajari apapun, termasuk pelajaran di sekolah yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik.[5]
Ungkapan tersebut meyakinkan kepada penulis serta pembaca betapa pentingnya membangun kecintaan terhadap membaca. Cinta tak selalu berkaitan dengan hubungan antara dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berbeda, akan tetapi cinta yang dimaknai disini adalah cinta yang tumbuh karena terbangunnya kesadaran yang dibentuk melalui proses panjang pembiasaan/pembudayaan membaca. Usia anak-anak adalah usia yang paling potensial dalam menumbuhkan kecintaan terhadap membaca. Maka tidak heran apabila orang tua yang memiliki budaya membaca yang baik maka anak-anak mereka juga kelak akan memiliki kecintaan terhadap membaca, namun dengan catatan orang tua mampu melakukan pembiasaan membaca yang rutin kepada anaknya.
Studi Programme for International Student Assesment (PISA) yang dilakukan pada tahun 2009, 2012 dan 2015 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengungkap bahwa pemahaman membaca siswa (selain matematika dan sains) di Indonesia pada tingkat sekolah menengah (15 tahun) masih dikatakan rendah. Sebagaimana diketahui PISA pada tahun 2009 menempatkan posisi Indonesia pada peringkat ke-57 dari 65 negara. Kemudian PISA pada tahun 2012 menunjukkan literasi peserta didik Indonesia mengalami kemunduran dengan bertengger pada posisi ke-64 (peringkat 2 terakhir) dari 65 negara yang berpartisipasi. Data terakhir PISA 2015 juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan seperti diketahui Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 peserta)[6]. Rendahnya kemampuan literasi siswa di lingkungan sekolah menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang bersekolah saja pemahaman membacanya masih rendah apalagi mereka yang tidak bersekolah. Ini menegaskan kembali kepada kita bahwa rendahnya minat membaca siswa merupakan cerminan bahwa pendidikan belum mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Lalu mengapa demikian? apakah pembelajaran di sekolah tidak efektif dalam menumbuhkan minat baca? Atau masih kurangnya perhatian perangkat pendidikan terhadap kondisi literasi bangsa ini yang kian terpuruk?. Ingat baik-baik beberapa pertanyaan tadi dalam pikiran kita agar kesadaran akan urgensi membaca tetap terjaga dalam ruang kesadaran kita sebagai manusia dan terimplementasi dalam setiap tindakan yang kita lakukan.
Selama ini sejumlah fasilitas membaca yang mewah tidak selamanya mengundang ketertarikan masyarakat terhadapnya, akan tetapi sebaliknya fasilitas membaca yang identik mewah malah di eksploitir untuk kepentingan individu atau golongan tertentu yang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya membaca apalagi budaya membaca. Terikatnya manusia kedalam pusaran kepentingan semata akan membutakan mereka dalam memahami kondisi literasi bangsa hari ini. Pada akhirnya tujuan mulia untuk menumbuhkan dan meningkatkan budaya baca hanya sekedar wacana yang tak jelas arah dan muaranya. Hal yang paling mendasar dalam menumbuhkan minat baca adalah membangun kesadaran pentingnya membaca sedari dini. Menumbuhkan kesadaran memang terasa sulit sekali dilakukan, terlebih lagi apabila kesadaran itu dipaksakan kehadirannya pada diri manusia. Kesadaran yang coba ditanamkan melalui proses pembudayaan tidak selamanya berbuah manis menghasilkan kesadaran yang utuh. Ketimbang menumbuhkan kesadaran, pembudayaan yang diikat aturan yang tegas menjadi bentuk kekerasan simbolik yang meneteskan tinta hitam pada hati manusia dan memudarkan pandangannya untuk membaca dengan intuisi. Lalu pembudayaan membaca seperti apa yang mampu menumbuhkan kesadaran  dan minat baca serta membangun budaya membaca yang membudaya? Lagi-lagi muncul pertanyaan yang menguras seisi kepala kita.
Perpustakaan dan buku bagaikan satu keping mata uang dengan dua sisi yang berbeda, akan tetapi untuk menjadi bernilai keduaya harus ada dan saling mengisi satu sama lain. Buku diartikan sebagai catatan tercetak yang dikonsumsi publik, dan perpustakaan diartikan sebagai mediator yang dapat mempertemukan antara pembaca dengan ide penulis yang dituangkan pada isi informasi yang ada didalamnya[7]. Perpustakaan semestinya tidak hanya menjadi ruangan yang dipenuhi buku, namun juga dilengkapi dengan beragam fasilitas khusus yang mampu menjadikan suasana perpustakaan semakin kondusif baik bagi anak-anak, remaja maupun bagi kalangan dewasa. Dengan pengelolaan yang baik, maka perpustakaan akan menjadi ruang tak terbatas yang mampu mengeksplorasi daya pikir kreatif, inspiratif dan berujung pada meningkatnya pengetahuan dan wawasan serta kemajuan peradaban. Dengan demikian, perpustakaan dan buku mesti terus dijaga dan dikembangkan dalam upaya mendorong minat baca dan membangun budaya baca masyarakat.
Banten sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang menjadikan Islam sebagai simbol peradaban masyarakat sejak masa kesultanan. Islam pada kenyataannya di masa itu tidak serta merta menghapus jejak tradisi dan budaya lokal Banten yang sudah ada jauh sebelum Islam masuk dan berkembang di Banten. Indikasi bahwa penguasa Banten saat itu masih menghargai dan menghormati tradisi dan budaya lokal adalah cerita dalam ‘Sadjarah Banten’ yang menyatakan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa, sejak belia dan masih menjabat sebagai Sultan Muda, dikenal sebagai putra bangsawan yang sangat menyukai kebudayaan. Bahkan ia seringkali terlibat aktif dalam beberapa tradisi permainan rakyat Banten seperti permainan raket (semacam wayang wong), dedewaan, sasaptoan, dan berbagai tradisi lokal lainnya.[8] Era post truth  menjadi titik tolak kemajuan suatu peradaban. Aktifitas manusia semakin mudah dilakukan, begitupun dengan semakin mudahnya informasi-informasi hoax tersebar luas. Oleh karenanya, masyarakat Banten harus melek huruf dan memiliki budaya membaca. Bagaimana caranya kita mengetahui budaya Banten dan memilah informasi yang benar dan tidak benar tentang Banten, apabila kita tidak pernah membaca sejarah Banten. Budaya membaca juga tidak hanya sekedar melekat pada diri sendiri tapi juga harus ditebarkan kepada orang lain agar budaya membaca dalam diri mampu membudaya dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sehingga pada waktunya nanti masyarakat Banten mampu menjadi insan yang berdaya dan berbudaya baik ditanah sendiri maupun ketika berada diluar daerahnya.
Pemerintah dan stake holder semestinya tidak bisa hanya berfokus pada peningkatan kualitas sarana membaca seperti perpustakaan dan sejenisnya. Mulailah berbaur dengan masyarakat dalam membangun formulasi yang tepat guna menumbuhkan  kesadaran akan pentingnya membaca. Salah satu gerakan membaca yang muncul atas kolaborasi antar keduanya adalah didirikannya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Tidak sedikit jumlah TBM yang berdiri di pelosok negeri ini menunjukkan bahwa besarnya antusiasme masyarakat untuk membantu menumbuhkan kesadaran bangsa akan pentingnya kemampuan membaca dalam kehidupan. Mencerdaskan kehidupan Bangsa adalah salah satu amanat undang-undang dan para founding father yang memerdekakan bangsa ini dengan bermandikan darah dan nanah perjuangan. TBM menjadi solusi membangun kesadaran secara bottom up yakni meningkatkan kesadaran dan membangun budaya membaca masyarakat di daerah pelosok pedesaan. Namun ternyata realitas di lingkungan masyarakat berkata lain, TBM belum mampu berperan secara langsung dalam menumbuhkan kesadaran yang utuh tentang pentingnya membaca pada diri masyarakat. Strategi membuka lapak literasi beralaskan karpet dengan beragam buku yang dijajakkan belum mampu memberikan stimulus yang maksimal kepada masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap membaca. Buku-buku yang ada seakan hanya menjadi pajangan yang mengindahkan pandangan namun tidak menyelesaikan akar permasalahan rendahnya minat membaca masyarakat. Lalu siapa saja yang semestinya berperan dalam meningkatkan budaya baca selain pemerintah dan stake holder atau pemerhati pendidikan?.
Sebagai kelompok sosial terkecil dan paling intim, keluarga merupakan sekolah pertama bagi manusia. Disini, seorang anak lahir dan mulai mengenal dunia melalui kasih sayang kedua orang tuanya. Begitu lembut kasih sayang orang tua pada anaknya, mereka ada disaat senang maupun susah dan tanpa disadari mereka adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan anak-anaknya. Maka semestinya menumbuhkan kesadaran terhadap membaca dimulai dari sini. Sedari kecil orang tua harus sudah mulai menyuguhkan buku-buku yang menarik perhatian anaknya, misalnya buku cerita bergambar atau sejenisnya. Ajarkan setiap gambar yang nampak dalam buku dan ceritakan kisahnya. Lalu pada usia yang cukup, mulailah orangtua mengajarkan anaknya membaca. Kebiasaan yang dibangun secara alamiah itulah yang pada akhirnya akan melahirkan kecintaan mereka terhadap membaca. Lingkungan keluarga yang literat akan berbeda dengan yang tidak literat. Orang tua yang tidak memiliki kesadaran dan budaya baca akan sulit untuk menumbhkan minat baca anaknya, akan tetapi orang tua yang memiliki budaya baca akan lebih mudah dalam mereproduksi budaya baca pada diri anaknya. Kebiasaan membaca orang tua akan diamati dan lama kelamaan akan ditiru oleh anaknya. Lalu bagaimana strategi untuk menumbuhkan minat baca anak yang hidup di lingkungan keluarga yang tidak literat? Disinilah Pentingnya kolaborasi peran aktif dari seluruh pihak, baik pemerintah, stake holder maupun orang tua dan masyarakat secara umum untuk kembali saling bertukar pikiran dan meramu gagasan agar terbentuknya kebudayaan membaca pada diri anak-anaknya.
Strategi “Door to Door” menjadi solusi dari penulis dalam menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap membaca. Pemerintah wajib mendonasikan buku kepada seluruh TBM yang berdiri di Indonesia, kemudian para anggota TBM bergerak secara masif untuk datang ke perumahan warga di masing-masing wilayah yang bisa dijangkau dan memberikan buku-buku bacaaan kepada orang tua anak sesuai dengan tingkatan usia dan kondisi psikis anak. Keberhasilan strategi ini tidak terpaku pada upaya yang dilakukan oleh salah satu pihak saja, akan tetapi kolaborasi antar seluruh pihak dan elemen yang ada didalamnya lah yang menentukan keberhasilan dari strategi “Door To Door” ini. Orang tua membuat jadwal membaca untuk anaknya (bagi anak yang telah bisa membaca), sedangkan bagi anak yang belum bisa membaca, maka orang tua menjadwalkan dirinya untuk mengisahkan suatu fenomena atau cerita tentang apa yang ada didalam buku. Ini semua bertujuan untuk merangsang kesadaran anak untuk terbiasa membaca sehingga budaya membaca terbentuk didalam dirinya. Apabila budaya membaca sudah terbentuk dalam diri anak, dengan begitu budaya membaca akan terus membudaya hingga mereka beregenerasi pada masa yang akan datang.
Menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap membaca membutuhkan uluran tangan dari semua pihak. Menjadi penting untuk berperan langsung didalamnya, bukan hanya sebagai penonoton saja akan tetapi juga ikut bergerak dan memperjuangkan hak dan kewajiban kita kepada orang lain. Orang tua di lingkungan keluarga, guru di lingkungan sekolah, pemerintah di lingkungan pendidikan nasional dan anggota masyarakat di lingkungan yang lebih luas harus turut serta menjadi penggerak pada masing-masing ruang lingkupnya sehingga pembudayaan membaca terus mereproduksi diri dalam setiap generasi. Kita merupakan satu kesatuan yang utuh sebagai suatu bangsa, maka ini adalah panggilan nurani yang hendak menyita seluruh waktu, tenaga, pikiran dan materi demi membaca yang membudaya dalam diri seluruh rakyat Indonesia. Persoalan yang membentang dihadapan kita adalah persoalan kecerdasan bangsa maka membaca merupakan pintu gerbang pertama menuju bangsa yang cerdas dan mencerdaskan. Oleh karena itu, mari bergandengan tangan dan saling bergotong royong memaksimalkan potensi diri untuk menggapai kecerdasan hidup berbangsa dan bernegara melalui pembudayaan membaca dalam diri dan memberdayakannya untuk generasi (Budaya baca yang membudaya).


[1] BPS. 2017. Potret Pendidikan Indonesia Statistik Pendidikan. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Hal:62.

[2] Istilah post-truth menurut penjelasan Kamus Oxford digunakan pertama kali tahun 1992. Istilah itu diungkapkan oleh Steve Tesich di majalah The Nation ketika merefleksikan kasus Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi di periode tersebut. Sementara itu Ralph Keyes dalam bukunya The Post truth Era (2004) dan comedian Stephen Colber mempopulerkan istilah yang berhubungan dengan post-truth yaitu truthiness yang kurang lebih sebagai sesuatu yang seolah-olah benar, meski tidak benar sama sekali.
[3] Setiawan, Ikhwan (25 Septermber, 2017), Media Sosial, Politik Post-Truth dan Tantangan Kebangsaan. Link berita: http://matatimoer.or.id/2017/09/2 5/media-sosial-politik-post-truthdan- tantangan-kebangsaan/.
[4] Suwarno, Wiji. Perpustakaan & Buku. Jakarta. Ar-Ruzz Media. Hal. 39
[5] Gong, A gol. Agus M Irkham. Gempa Literasi Dari Kampung Untuk Nusantara. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia. Hal: 11.
[6] Sutrianto, Dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Jakarta Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, hal: 1.
[7] Suwarno, Wiji. Perpustakaan & Buku. Jakarta. Ar-Ruzz Media. Hal. 39
[8] Tjandrasasmita, Uka. 2011. Banten Abad XV-XXI. Pencapaian Gemilang, Penorehan Menjelang. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Hal : 29

No comments:

Post a Comment